AYAT PANDUAN
“Untuk selama-lamanya kah Tuhan menolak dan tidak lagi berkenan? Sudah lenyapkah untuk seterusnya kasih setia-Nya, telah berakhirkah janji-Nya berlaku turun-temurun? Sudah lupakah Allah menaruh kasihan, atau ditutup-Nyakah rahmat-Nya karena murka-Nya? … Aku berkata: ‘Inilah yang menikam hatiku, bahwa tangan kanan Yang Mahatinggi berubah.’”
Mazmur 77:7–10
Konteks
Rasa sakit Asaf berubah menjadi pertanyaan-pertanyaan yang berat. Dia bertanya apakah Tuhan menolaknya, apakah kasih Tuhan sudah berhenti, dan apakah Tuhan lupa untuk berbelas kasih. Ini bukan pertanyaan teologi yang jauh dan dingin. Ini adalah tangisan hati yang sudah terluka sangat dalam sampai bertanya apakah Tuhan masih bisa dipercaya.
PERENUNGAN
Kadang pertanyaan yang paling sulit bukan, “Apakah Tuhan itu ada?”
Kadang pertanyaan yang lebih sulit adalah, “Apakah aku bisa percaya kepada-Nya?”
Asaf mengajukan pertanyaan yang kebanyakan orang orang percaya takut mengucapkannya:
“Apakah Tuhan akan menolak untuk selamanya?”
“Apakah kasih setia-Nya sudah berhenti?”
“Apakah Tuhan lupa untuk berbelas kasih?”
“Apakah Tuhan menahan belas kasihan-Nya?”
Ini adalah kata-kata seseorang yang sedang bergumul untuk menyatukan apa yang dia tahu tentang Tuhan dengan apa yang dia rasakan dalam rasa sakitnya.
Banyak diantara kita mengenal pergumulan ini.
Kita mungkin percaya bahwa Tuhan itu baik, tetapi ada bagian dalam diri kita yang tidak merasa aman. Kita mungkin tahu ayat-ayat Alkitab, tetapi bagian yang terluka berkata, “Itu bukan pengalamanku dengan manusia.” Kita mungkin menyanyi tentang kasih Bapa, tetapi bagian lain diam-diam mengingat pada orang tua yang telah pergi, yang kejam, yang sulit untuk mengerti, atau jauh. Kita mungkin mendengar bahwa Tuhan itu setia, tetapi ada bagian dalam diri kita yang mengingat pendeta, pemimpin, teman, atau anggota keluarga yang pernah mengecewakan kita.
Ketika orang-orang yang seharusnya mengasihi kita justru melukai kita, kepercayaan menjadi sulit.
Bagian yang berjaga-jaga mungkin berkata, “Aku tidak membutuhkan siapa pun.”
Bagian yang kecewa mungkin berkata, “Jangan terlalu berharap.”
Bagian yang curiga mungkin berkata, “Kalau aku percaya, aku akan terluka lagi.”
Bagian yang ingin melindungi diri mungkin berkata, “Aku harus tetap mengontrol karena tidak ada orang lain yang akan menjaga aku.”
Reaksi-reaksi ini sering kali dimulai karena mencoba untuk bertahan hidup. Tetapi reaksi ini dapat membuat kita sulit menerima kasih dan penghiburan yang Tuhan ingin berikan.
Asaf melakukan sesuatu yang penting: dia melampiaskan kesulitannya untuk percaya kepada Tuhan, tetapi tidak menjauhi Tuhan.
Dia tidak berkata, “Aku punya pertanyaan seperti ini, jadi aku harus pergi.” Dia membawa pertanyaan itu dalam doa. Dia membiarkan Tuhan mendengar bagian dirinya yang merasa ditinggalkan. Hal itu bukanlah suatu pemberontakan. Tetapi ungkapan yang jujur dalam hubungan yang sesungguhnya.
Tuhan tidak terancam oleh pertanyaanmu.
Pertanyaanmu tidak membuat Dia kurang setia. Rasa sakitmu tidak membuat Dia kurang baik. Pergumulanmu untuk percaya tidak mengejutkan Dia. Dia sudah melihat tempat di mana kepercayaanmu pernah rusak, tempat di mana kamu belajar menjaga hatimu, dan tempat di mana kamu memutuskan bahwa kamu hanya bisa bergantung pada dirimu sendiri.
Dan Dia sabar di sana.
Tuhan mungkin tidak bekerja menurut waktu yang kamu inginkan. Jalan-Nya mungkin tidak selalu masuk akal pada saat ini. Tetapi Dia tidak seperti orang-orang yang pernah gagal mengasihimu. Di dalam Dia tidak ada kejahatan, tidak ada manipulasi, tidak ada kekejaman yang tersembunyi, dan tidak ada kasih yang berubah-ubah.
Dia tidak menggunakan kerentananmu untuk menyakitimu.
Yesus adalah bukti yang paling jelas. Di kayu salib, Dia tidak tinggal jauh dari penderitaan manusia. Dia masuk ke dalamnya. Dia menanggung dosa, rasa malu, dukacita, pengkhianatan, dan kematian. Kasih-Nya bukan hanya gagasan yang menghibur; kasih-Nya adalah kasih perjanjian yang dibuktikan melalui pengorbanan-Nya.
Ketika ada bagian dalam dirimu yang berkata, “Aku tidak bisa percaya kepada Tuhan,” jangan diamkan bagian itu dengan jawaban yang dangkal. Bawalah bagian itu dengan lembut kepada Yesus.
Tanyakan: “Apa yang pernah dialami bagian ini sehingga percaya itu justru terasa berbahaya?”
Tanyakan: “Apa yang bagian ini perlu lihat tentang karakter Tuhan?”
Tanyakan: “Langkah kecil apa untuk percaya yang mungkin dapat dilakukan hari ini?”
Iman mungkin dimulai dengan gemetar ketidak berdoa: “Tuhan, aku ingin percaya kepada-Mu. Tolong bagian diriku yang takut.”
Doa itu cukup untuk memulai melangkah.
PENDALAMAN
“Tetapi Allah yang kaya dengan rahmat, oleh karena kasih-Nya yang besar, yang dilimpahkan-Nya kepada kita, telah menghidupkan kita bersama-sama dengan Kristus, sekalipun kita telah mati oleh kesalahan-kesalahan kita—oleh kasih karunia kamu diselamatkan. … Tetapi sekarang di dalam Kristus Yesus kamu, yang dahulu ‘jauh’, sudah menjadi ‘dekat’ oleh darah Kristus.”
Efesus 2:4–5, 13
Kedekatan dengan Tuhan tidak diperoleh karena perasaan kita selalu baik atau karena kepercayaan kita sempurna. Di dalam Kristus, orang yang dahulu jauh telah dibawa mendekat oleh anugerah.
PIKIRKAN HARI INI
Orang-orang yang pernah mengecewakanku mungkin menyatakan kepadaku bawa menjadi percaya itu sulit, tetapi bukan mereka yang menentukan karakter Tuhan.
TANYAKAN PADA DIRI SENDIRI
Pengalaman apa yang membentuk bagian diriku yang sulit untuk percaya kepada Tuhan? Apakah bagian itu perlu mendengar tentang kasih-Nya yang tidak berubah?
JALANKAN
Tuliskan sebuah doa singkat tentang bagian dirimu yang merasa was-was atau sulit untuk percaya:
“Aku melihat bahwa kamu sedang berusaha melindungiku dari...”
“Kamu menyadari bahwa percaya itu berbahaya karena.. .”
“Tetapi Tuhan tidak sama seperti orang-orang yang pernah melukaiku.”
“Yesus, tunjukkan kepada bagian ini satu kebenaran akan kasih-Mu pada saat ini.”
“Tolong aku mengambil satu langkah kecil untuk percaya kepada-Mu dalam hal .”
Kemudian bacalah Efesus 2:4–5 dan 13. Garisbawahi kalimat-kalimat: kaya dengan rahmat, kasih-Nya yang besar, menghidupkan kita, dan sudah menjadi dekat.
DOA
Allah yang setia, Engkau melihat bagaimana kekecewaan, pengkhianatan, kehilangan, dan hubungan yang rusak telah membentuk kemampuanku untuk percaya. Ampuni aku ketika aku menganggap Engkau sama seperti orang-orang yang pernah gagal mengasihiku. Sembuhkan tempat-tempat dalam diriku yang was was dan takut. Tolong aku untuk membawa pertanyaan-pertanyaanku yang sulit kepada-Mu, bukan justru dari dari padamu. Terima kasih karena kasih-Mu tidak bergantung pada suasana hatiku, kekuatanku, atau kemampuanku untuk mengerti semuanya. Di dalam Kristus, Engkau telah membawa aku dekat. Ajari aku percaya kepadaMu, bahkan ketika aku belum mengerti akan jangkauan kasih-Mu. Amin.

