PART 3: Ingatlah Apa yang Benar

AYAT PANDUAN

“Aku hendak mengingat perbuatan-perbuatan TUHAN, ya, aku hendak mengingat keajaiban-keajaiban-Mu dari zaman purbakala. Aku hendak menyebut-nyebut segala pekerjaan-Mu, dan merenungkan perbuatan-perbuatan-Mu. Ya Allah, jalan-Mu adalah kudus! Allah manakah yang begitu besar seperti Allah kami? Engkaulah Allah yang melakukan keajaiban; Engkau telah menyatakan kuasa-Mu di antara bangsa-bangsa.”
Mazmur 77:11–14

Konteks

Mazmur 77 mulai berubah arah ketika Asaf memilih untuk mengingat. Keadaannya belum tiba-tiba berubah. Dia belum menerima mukjizat secara langsung, terobosan keuangan, atau kelegaan emosi. Sebaliknya, dia mengarahkan perhatian kepada kesetiaan Tuhan di masa lalu—terutama pembebasan Israel dari Mesir. Asaf tidak hadir secara langsung di Laut Merah, tetapi dia percaya kepada kesaksian Firman Tuhan dan mengingat apa yang Tuhan telah lakukan.

PERENUNGAN

Ada titik perubahan dalam Mazmur 77.

Asaf tidak tiba-tiba bangun dan menyadari bahwa semua masalahnya sudah hilang. Dia tidak menerima pesan bahwa krisisnya sudah selesai. Dia tidak mengalami mukjizat yang langsung menghilangkan rasa sakitnya.

Yang berubah adalah fokusnya.

“Aku hendak mengingat perbuatan-perbuatan TUHAN.”

Ketika perasaan gagal, iman mengingatkan kita.

Asaf mengingat keajaiban Tuhan. Dia mengingat kisah keluaran, pembebasan Israel dari Mesir yang besar, dan Tuhan yang membuka jalan ketika tidak ada jalan. Dia tidak ada di sana ketika Laut Merah terbuka. Dia bukan sedang mengingat pengalaman pribadinya. Dia sedang mengingat Firman Tuhan yang telah diteruskan kepadanya dari generasi ke generasi.

Ini penting.

Kita tidak hadir secara fisik di Kalvari. Kita tidak berdiri di depan kubur yang kosong. Tetapi kita teringat. Kita membuka Alkitab dan mengingat bahwa Yesus menyerahkan diri-Nya bagi kita. Kita mengingat bahwa Dia menanggung dosa kita. Kita mengingat bahwa Dia mengalahkan kematian. Kita mengingat bahwa dahulu kita jauh, tetapi Kristus telah membawa kita dekat.

Perasaan mungkin berkata, “Kamu sendirian.”
Injil berkata, “Tuhan menyertaimu.”

Perasaan mungkin berkata, “Kamu tidak dikasihi.”
Injil berkata, “Tuhan kaya dengan rahmat dan Dia mengasihimu dengan kasih yang besar.”

Perasaan mungkin berkata, “Kamu masih orang yang dulu.”
Injil berkata, “Kamu dahulu mati, tetapi Tuhan telah menghidupkanmu bersama Kristus.”

Perasaan mungkin berkata, “Kamu tidak punya tempat.”
Injil berkata, “Kamu dahulu jauh, tetapi sekarang kamu telah dibawa dekat oleh darah Kristus.”

Ini bukan berarti kita berpura-pura bahwa perasaan kita tidak penting. Perasaan itu nyata. Perasaan dapat menunjukkan dukacita, kelelahan, ketakutan, kekecewaan, atau kebutuhan untuk dirawat. Tetapi perasaan tidak selalu layak menjadi pemimpin.

Mungkin ada bagian dalam dirimu yang merasa tidak dikasihi karena tidak merasakan merinding saat ibadah. Bagian lain mungkin merasa tidak diselamatkan karena sedang bergumul dengan dosa. Bagian lain mungkin merasa ditinggalkan karena hidup terasa sulit. Ada juga bagian yang tergoda untuk menahan pujian kita kepada Tuhan: “Aku tidak suka lagunya, gaya ibadahnya, ruangan ini, jadwalnya, atau orang-orangnya, jadi aku tidak mau memuji.”

Tetapi penyembahan bukan pertama-tama tentang apakah kita merasakan suasana yang sempurna. Penyembahan adalah mengingat siapa Tuhan dan apa yang telah Dia lakukan.

Tuhan menebus kita dengan memberikan Anak-Nya. Kita tidak menahan pujian kita kepadaNya Oleh karena momen itu tidak sesuai dengan keinginan kita.

Ada lagu Sekolah Minggu yang berkata, “Yesus sayang padaku, Alkitab berkata begitu.” Lagu itu sederhana, tetapi sangat dalam kebenarannya. Janji Tuhan tidak bergantung pada suasana hati kita. Janji Tuhan berdiri di atas kesetiaan-Nya.

Mengingat adalah latihan rohani.

Inilah cara kita berbicara kepada bagian-bagian dalam diri kita yang takut, malu, lelah, dan ragu. Kita tidak menghancurkan mereka. Kita membawa kebenaran Kristus kepada mereka.

“Yesus mengasihimu.”
“Kamu milik Tuhan.”
“Kamu tidak ditinggalkan.”
“Keselamatanmu tidak bergantung pada suasana hatimu hari ini.”
“Kristus telah membawa kamu dekat.”
“Rahmat Tuhan masih nyata.”
“Salib masih cukup.”

Mungkin hari ini kamu tidak merasa diselamatkan. Tetapi jika kamu milik Kristus, statusmu di hadapan Tuhan berdiri di atas anugerah-Nya, bukan di atas keadaan emosimu.

Jadi ingatlah.

Ingatlah salib.
Ingatlah kubur yang kosong.
Ingatlah rahmat yang sudah menopangmu.
Ingatlah Firman yang memberitahu siapa Tuhan itu.
Ingatlah bahwa Tuhan yang menyelamatkanmu tidak berubah.

PENDALAMAN

“Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya.”
Ibrani 13:8

Kestabilan imanmu tidak bergantung pada suasana hati yang stabil. Imanmu beristirahat pada karakter Yesus Kristus yang tidak berubah dan karya-Nya yang sudah selesai.

PIKIRKAN HARI INI 

Perasaanku bisa berubah, tetapi kesetiaan Tuhan, karya Kristus yang sudah selesai, dan identitasku di dalam Dia tetap benar.

TANYAKAN PADA DIRI SENDIRI 

Ketika perasaanku berkata bahwa aku sendirian, tidak dikasihi, atau jauh dari Tuhan, kebenaran Firman apakah yang perlu aku ingat untuk diucapkan kepada hatiku?

LAKUKAN

Buatlah daftar pribadi untuk mengingat hari ini. Tuliskan setidaknya lima kebenaran yang dapat kamu kembali ingat saat emosimu terasa berat.

Contoh:

  • “Yesus mengasihiku; Alkitab berkata begitu.”

  • “Tuhan kaya dengan rahmat.”

  • “Aku dahulu mati, tetapi sekarang aku hidup bersama Kristus.”

  • “Aku dahulu jauh, tetapi sekarang aku telah dibawa dekat.”

  • “Tuhan tidak akan pernah meninggalkan atau membuang aku.”

  • “Yesus tetap sama, baik kemarin, hari ini, maupun selamanya.”

  • “Keselamatanku berdiri di atas anugerah, bukan suasana hatiku.”

Simpan daftar ini di Alkitab, ponsel, dompet, atau jurnalmu. Saat kamu tidak merasa dekat dengan Tuhan, bacalah dengan suara keras. Biarkan kebenaran memimpin hatimu kembali kepada iman.

DOA

Allah keselamatanku, terima kasih karena janji-Mu tidak bergantung pada perasaanku. Ampuni aku untuk saat-saat ketika aku membiarkan suasana hati, kenyamanan, kesukaan, atau kekecewaanku menentukan penyembahan dan identitasku. Ketika aku merasa tidak dikasihi, ingatkan aku akan salib. Ketika aku merasa jauh, ingatkan aku bahwa Kristus telah membawa aku dekat. Ketika aku merasa lemah, ingatkan aku bahwa kasih karunia-Mu cukup. Ajari aku mengingat perbuatan-Mu, merenungkan kebenaran-Mu, dan percaya kepada kesetiaan-Mu ketika emosiku tidak tenang. Dalam nama Yesus, amin.

Previous
Previous

PART 2: Ketika Kepercayaan Pernah Terluka