PART 3: Raja Damai Berperang Bagimu
AYAT PANDUAN
““Ia menghentikan peperangan sampai ke ujung bumi; Ia mematahkan busur, menumpulkan tombak, membakar kereta-kereta perang dengan api. ‘Diamlah dan ketahuilah, bahwa Akulah Allah! Aku ditinggikan di antara bangsa-bangsa, ditinggikan di bumi!’ TUHAN semesta alam menyertai kita, kota benteng kita ialah Allah Yakub.”
Mazmur 46:9–11
KONTEKS
Mazmur 46 menyebut Tuhan sebagai “TUHAN semesta alam.” Berarti Dia tidak jauh dari konflik yang mengancam umat-Nya. Dia menghadapi kejahatan, menghancurkan senjata perang, dan mengakhiri kuasa yang melawan. Ketika Tuhan berkata, “Diamlah,” Dia berbicara sebagai Raja Pemenang—Pribadi yang sudah membuktikan bahwa Dia sanggup membela umat-Nya.
PERENUNGAN
Yesus adalah Raja Damai.
Tetapi damai tidak berarti Yesus tidak pernah berperang.
Mazmur 46 menunjukkan kepada kita Allah yang menghentikan peperangan sampai ke ujung bumi. Dia mematahkan busur. Dia menghancurkan tombak. Dia membakar kereta perang. Dia tidak menciptakan damai dengan mengabaikan kejahatan, berpura-pura bahwa kegelapan tidak nyata, atau menyuruh anak-anak-Nya menghadapi pertempuran sendirian. Dia menciptakan damai dengan menghadapi segala sesuatu yang melawan kerajaan-Nya dan mengancam umat-Nya.
Itulah sebabnya Dia dapat berkata, “Diamlah dan ketahuilah, bahwa Akulah Allah.”
Panggilan untuk berdiam bukan perintah untuk menjadi pasif di tengah rasa sakit. Tuhan bukan berkata, “Ketakutanmu tidak penting.” Ini bukan perintah untuk mengabaikan ketidakadilan, atau menolak tindakan yang bijaksana, atau tidak mencari pertolongan. Ini adalah panggilan untuk berhenti mencoba memikul pertempuran yang sebenarnya adalah milik Tuhan.
TUHAN semesta alam menyertai kita.
Ada bagian-bagian dalam diri kita yang selalu bersiap untuk berperang.
Bagian yang takut karena membayangkan semua kemungkinan terburuk supaya tidak panik.
Bagian yang ingin menguasai karena percaya bahwa jika ia merencanakan lebih banyak, bekerja lebih keras, dan prihatin lebih lama, ia dapat mencegah bencana.
Bagian yang defensif selalu siap untuk berdebat, menjelaskan, membuktikan diri benar, atau melindungi diri.
Bagian yang terluka mungkin terus mengulang rasa sakit masa lalu karena takut luka yang sama akan terjadi lagi.
Bagian yang terus berusaha berkata, “Kalau aku tidak berjuang untuk diriku sendiri, terus siapa lagi.”
Bagian-bagian ini sering kali mencoba menjaga agar kita merasa tetap aman. Bagian-bagian ini tidak jahat hanya merasa takut. Tetapi akhirnya menjadi lelah sendiri Karena mencoba melakukan apa yang sesungguhnya hanya Tuhanlah yang sanggup melakukannya.
Bagian-bagian tersebut tidak dimaksudkan untuk berperang.
Namun Tuhan tidak mempermalukan bagian dalam diri kita yang cemas atau ingin melindungi diri. Dia berbicara kepada mereka dengan kuasa dan kasih: “Diamlah. Ketahuilah bahwa Akulah Allah.”
Ini bukanlah undangan bagi kita untuk bersantai. Ini adalah undangan untuk mengingatkan kepada kita siapa yang benar-benar memegang kendali.
Yesus disebut Raja Damai, tetapi Yesaya tidak menggambarkan Dia sebagai Pribadi yang lemah atau tidak berkuasa. Dia juga disebut Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, dan Raja yang kerajaan-Nya ditegakkan dengan keadilan dan kebenaran. Damai-Nya bukan damai yang rapuh. Damai-Nya adalah damai dari seorang Raja yang berkuasa atas kegelapan, dosa, kematian, dan setiap kekuatan yang melawan umat-Nya.
Di kayu salib, Yesus berperang bagi kita.
Dia menghadapi kuasa dosa. Dia menanggung rasa malu. Dia masuk ke dalam penderitaan. Dia menghadapi kematian itu sendiri. Lalu Dia bangkit kembali. Musuh tidak menang. Kematian tidak menang. Kegelapan tidak menang.
Yesus memiliki catatan kemenangan yang sempurna.
Dia tidak pernah kalah dalam pertempuran yang menjadi tanggunganNya.
Ini tidak berarti setiap situasi dalam hidup kita akan selesai tepat seperti atau kapan kita mau. Ada pertempuran yang panjang. Ada doa yang dijawab dengan lambat. Ada kehilangan yang tetap menyakitkan. Tetapi orang Kristen tidak berjuang untuk meraih kemenangan seolah-olah hasilnya bergantung sepenuhnya kepada kita. Kita berjuang dari kemenangan Kristus.
Itulah yang mengubah cara kita menghadapi ketakutan.
Ketika pikiranmu berkata, “Kamu harus menyelesaikan ini sekarang,” ingatlah: Yesus adalah Tuhan.
Ketika hatimu berkata, “Kamu harus membela dirimu sendiri,” ingatlah: Yesus adalah bentengmu.
Ketika bagian yang takut berkata, “Kita tidak aman,” ingatlah: TUHAN semesta alam menyertai kita.
Ketika kamu merasa kewalahan oleh kejahatan, kegelapan, atau ketidakpastian masa depan, ingatlah: Raja Damai tidak meninggalkan anak-anak-Nya dalam pertempuran.
Berdiamlah, bukan karena tidak ada perang, tetapi karena Tuhan sedang berperang bagimu.
PENDALAMAN
“TUHAN akan berperang untuk kamu, dan kamu akan diam saja.”
Keluaran 14:14
Bangsa Israel terjebak di antara pasukan Firaun dan Laut Merah. Mereka tidak dapat menyelamatkan diri sendiri. Tuhan melakukan apa yang mereka tidak dapat lakukan. Berdiam bukan kelemahan; berdiam adalah percaya kepada Tuhan yang berperang bagi umat-Nya.
PIKIRKAN HARI INI
Aku dapat berdiam karena Raja Damai bukanlah Pribadi yang pasif—Dia berperang bagi anak-anak-Nya dengan kuasa dan kesetiaan yang sempurna.
TANYAKAN PADA DIRI SENDIRI
Pertempuran apa yang sedang aku coba pikul sendirian? Seperti apakah menyerahkan pertempuran itu ke dalam tangan Tuhan yang berperang bagiku?
LAKUKANLAH
Saat ketakutan, atau rasa terdesak, atau keinginan untuk berkuasa muncul hari ini, berdoalah, serahkanlah peperanganmu kepada Tuhan:
Sebutkan pertempurannya: “Tuhan, aku sedang berjuang melawan ketakutan tentang… .”
Sebutkan bagian dirimu: “Ada bagian diriku yang merasa harus menguasai supaya tidak merasa takut”
Serahkan bebannya: “Yesus, pertempuran ini milik-Mu. Aku tidak dapat memikul apa yang hanya Engkau dapat pikul.”
Nyatakan kebenarannya: “TUHAN semesta alam menyertaiku. Allah Yakub adalah bentengku.”
Ambil satu tindakan setia: Lakukan apa yang Tuhan beritahukan kepadamu untuk dilakukan hari ini—berdoa, menelepon seseorang, mencari nasihat yang bijaksana, membuat batas, meminta maaf, beristirahat, atau menunggu—jangan berusaha menguasai apa yang menjadi milik Tuhan.
Kamu juga dapat menempatkan isi Mazmur 46:10–11 di tempat yang dapat kamu lihat minggu ini: layar, kunci ponsel, meja kerja, cermin, atau jurnal. Saat ketakutan datang, bacalah dengan keras dan ingatkan bagian-bagian dalam hatimu yang sedang berjuang: “Tuhan menyertaiku. Aku tidak harus memenangkan pertempuran ini sendirian.”
DOA
Raja Damai, terima kasih karena damai-Mu bukan damai yang lemah atau pasif. Engkau adalah Raja yang perkasa, yang berperang melawan dosa, kegelapan, kematian, dan segala sesuatu yang melawan kerajaan-Mu serta anak-anak-Mu. Ampuni aku karena mencoba mengambil alih pertempuran yang sebenarnya milik-Mu. Datangkanlah hadiratMu pada bagian-bagian diriku yang takut, ingin menguasai, mudah tersinggung, dan lelah. Ajari aku untuk berdiam—bukan karena pertempuran ini kecil, tetapi karena Engkau jauh lebih besar. TUHAN semesta alam menyertaiku. Engkau adalah bentengku. Amin.

