Ayat Panduan
"Lalu bersoraklah bangsa itu, sedang sangkakala ditiup; segera sesudah bangsa itu mendengar bunyi sangkakala, bersorak-soraklah mereka dengan sorak yang nyaring. Maka runtuhlah tembok kota itu…"
Yosua 6:20 (TB)
"Demikianlah Rahab, perempuan sundal itu, dan keluarganya serta semua orang yang bersama-sama dengan dia dibiarkan hidup oleh Yosua… karena ia telah menyembunyikan orang suruhan yang disuruh Yosua mengintai Yerikho."
Yosua 6:25 (TB)
Konteks
Ketaatan Israel berlangsung berhari-hari, bukan hanya sesaat. Selama enam hari mereka mengelilingi kota satu kali lalu kembali ke perkemahan. Tidak ada yang berubah. Pada hari ketujuh mereka mengikuti sisa perintah Tuhan, dan tembok itu runtuh. Alkitab menyatakan bahwa kemenangan itu datang karena Tuhan menggenapi janji-Nya, bukan karena kekuatan berjalan atau suara sorakan. Dan cerita ini tidak berakhir hanya dengan runtuhnya tembok. Cerita ini berakhir dengan Rahab dan keluarganya yang diselamatkan. Bahkan dalam cerita tentang penghakiman, belas kasihan menjadi kata terakhir bagi mereka yang berbalik kepada Tuhan.
Perenungan
Mari kita membayangkan kembali ke perkemahan setelah hari pertama. Temboknya masih berdiri. Setelah hari kedua, temboknya juga masih berdiri. Israel harus terus taat tanpa menjadikan hasil yang cepat sebagai ukuran kesetiaan.
Kita juga membutuhkan hal ini dalam keluarga dan gereja kita.
Kita bisa mengasihi seseorang dan tidak langsung melihat tanggapannya.
Kita bisa mulai memperbaiki hubungan dan menyadari bahwa kepercayaan butuh waktu.
Kita bisa membangun kebiasaan yang lebih sehat dan tetap menghadapi penolakan.
Yerikho datang dengan janji khusus oleh Tuhan bahwa kota itu akan runtuh. Kita tidak boleh mengubahnya menjadi janji bahwa setiap masalah akan selesai sesuai waktu yang kita mau. Tetapi kita bisa menolak menjadikan hasil yang tertunda sebagai alasan untuk berhenti.
Berjalan mengelilingi kota itu bukan teknik untuk mengendalikan Tuhan. Itu adalah ketaatan kepada Tuhan yang menepati firman-Nya.
Lalu, mari kita ingat akan Rahab. Prayer walk menunjukkan kegelapan kepada kita, tetapi juga menunjukkan orang-orang. Orang-orang bukanlah penghalang bagi keberhasilan gereja kita. Mereka adalah orang-orang yang dipanggil untuk kita kasihi. Di suatu tempat di balik tembok-tembok yang kita lewati, ada "Rahab-Rahab": orang-orang yang sedang Tuhan tarik kepada diri-Nya dan sedang menunggu untuk diselamatkan melalui umat-Nya.
Itulah visi yang utuh: kegelapan yang nyata dan pengharapan Injil yang nyata, adalah satu kesatuan. Pada Salib Kristus tempat yang paling jelas akan kedua hal ini bertemu. Yesus masuk ke dalam kegelapan yang paling dalam, yaitu dosa, rasa malu, dan kematian, lalu Dia menang atasnya. Karena kebangkitan-Nya, kegelapan tidak punya kata terakhir di kota kita, di rumah kita, atau di gereja kita.
Pendalaman
"Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah."
Galatia 6:9 (TB)
Kesetiaan sering datang sebelum perubahan yang terlihat. Musim menuai punya waktunya sendiri, dan Tuhan yang memegang semua waktu.
Pikirkan Hari Ini
Aku tidak bisa mengendalikan hasilnya, tetapi aku bisa bertanggung jawab atas bagianku dan mempercayakan kepada Tuhan akan hal yang hanya Tuhan jualah yang dapat lakukan. .
Tanyakan Pada Diri Sendiri
Dalam keluargaku atau gerejaku, pola bagaimana yang sedang aku tunggu bagi seseorang untuk berubah? Dan seperti apa ketaatan dan kesetiaan pada bagian dari diriku sendiri?
Lakukan: Mengubah Bagianmu dalam Pola Itu
Dalam keluarga dan gereja, kita saling terhubung sedemikian rupa sehingga ketika satu orang mengubah cara dia menanggapi, orang lain sering ikut berubah.Tetapi Itu tidak berarti bahwa satu orang bisa mengendalikan semua orang. Itu berarti bagianmu penting.
Pikirkan siklus yang sudah sering kita alami:
Seseorang mengkritik.
Seseorang membela diri.
Seseorang meninggikan suara.
Seseorang menarik diri.
Lalu semua orang menunggu orang lain berubah.
Salah satu hal paling berharga yang bisa dibawa seseorang ke dalam rumah atau gereja yang sedang tegang adalah kehadiran yang tenang dan stabil. Artinya, tetap dekat tanpa terseret oleh kecemasan orang lain, dan tetap jelas dengan keyakinanmu tanpa perlu mengendalikan orang lain. Kamu tidak lari dari ketegangan, dan kamu juga tidak menambahnya. Pemimpin yang belajar hal ini dapat menjadi berkat bagi seluruh gereja dan keluarga.
Bersiaplah menghadapi penolakan ketika kamu mengambil langkah yang sehat. Ketika satu orang berhenti memainkan peran lamanya, orang lain sering berusaha lebih keras untuk mengembalikan keadaan seperti dulu. Itu bukan tanda bahwa kamu salah. Sering kali itu tanda bahwa sesuatu yang nyata sedang berubah. Tetaplah ramah, tetaplah stabil, dan teruslah melangkah.
Perhatikan juga satu pola lain yang sering terjadi. Ketika dua orang sedang berkonflik, mereka sering menarik orang ketiga daripada menyelesaikannya berdua. Orang tua curhat kepada anak. Anggota gereja membicarakan pemimpin di belakang, bukan berbicara langsung kepadanya. Ketaatan yang setia sering berarti keluar dari pola itu dan datang langsung dengan lembut kepada orang yang bersangkutan (Matius 18:15).
Jadi tanyakan, "Seperti apa ketaatan dalam bagianku pada ppola ini?"
Mungkin aku berhenti memakai kata-kata sindiran.
Mungkin aku meminta maaf tanpa menambahkan tuduhan.
Mungkin aku tetap hadir tanpa ikut berteriak.
Mungkin aku dengan tenang menetapkan batasan dan menjaganya.
Mungkin aku berhenti curhat kepada orang lain dan berbicara langsung kepada orangnya.
Ini bukan panggilan untuk bertahan dalam kekerasan atau sekadar menjaga penampilan. Kadang, langkah setia berikutnya adalah mencari keamanan, pertanggungjawaban, dan bantuan dari orang yang berkompeten.
Di gereja, Israel memiliki peran yang berbeda-beda dalam satu tindakan ketaatan bersama: para imam, para prajurit, dan seluruh bangsa. Pelayanan kita tidak harus terlihat sama, tetapi karunia kita harus melayani arah yang sama. Jangan hanya bertanya, "Apakah pelayananku sibuk?" Tanyakan, "Bagaimana bagianku menolong kita bersama mengasihi orang-orang yang Tuhan tunjukkan kepada kita lewat prayer walk?"
Tantangan tujuh hari: Berdoa, Perhatikan, Tanggapi
Tujuh hari ini adalah ritme bersama, bukan rumus dari Yerikho yang menjamin terobosan.
Berdoa: "Tuhan, bukalah mata kami." Berjalanlah lagi di sekitar blok rumahmu, atau doakan lingkunganmu dari rumah. Rasa sakit siapa yang selama ini kita abaikan? Apa yang perlu kita pahami sebelum mencoba menolong?
Perhatikan: Sebutkan satu beban yang spesifik. Satu orang, satu keluarga, satu kebutuhan yang terus muncul. Bawa beban itu ke keluargamu atau kelompok kecilmu.
Tanggapi: Ambil satu langkah yang tepat. Telepon orang itu, tawarkan makanan, mulai percakapan, minta maaf, atau ajak seseorang membaca Alkitab bersama. Lalu kembalilah berdoa dan bagikan apa yang sedang kamu pelajari.
Percakapan keluarga: Sisihkan dua puluh menit minggu ini dan beri ruang untuk suara anak-anak. Tanyakan:
Rasa sakit atau pola tidak sehat apakah yang perlu kita akui di rumah kita?
Di manakah kita sudah melihat kasih karunia, pertumbuhan, atau pendamaian?
Keluarga seperti apakah yang ingin kita wujudkani di bawah pimpinan Yesus?
Satu langkah apakah yang akan kita latih bersama minggu ini?
Jangan biarkan percakapan ini berubah menjadi sidang tentang siapa yang jadi masalah dalam keluarga. Jadikanlah ini tindakan bersama untuk jujur, bertobat, dan bertanggung jawab. Kalau kamu tinggal sendiri, tanyakan pertanyaan yang sama tentang hubunganmu dengan keluarga besar, teman, dan keluarga gereja. Ikut ambil bagian tidak bergantung pada apakah kamu sudah menikah atau punya anak.
Doa
Tuhan yang setia, Engkau sudah menunjukkan kegelapan di jalan-jalan kami, dan Engkau juga sudah menunjukkan terang-Mu di dalam Yesus. Tolong kami untuk terus berjalan ketika tembok-tembok itu belum bergerak. Berikan kami hati yang tenang di masa yang penuh kecemasan, supaya kami bisa tetap hadir tanpa dikuasai rasa takut. Tunjukkan bagianku dalam pola-pola di keluargaku dan gerejaku, dan berikan aku keberanian untuk mengubahnya. Tolong kami berjalan bersama, masing-masing di tempatnya, menuju orang-orang yang Engkau kasihi. Bukalah mata kami untuk melihat "Rahab-Rahab" yang sedang Engkau selamatkan. Kami tidak akan menunggu sampai kami merasa hebat atau sampai hasilnya terlihat jelas. Kami akan mengambil langkah setia berikutnya dan mempercayakan seterusnya kepada-Mu. Dalam nama Tuhan Yesus, amin.

