Bagian 2: Ia Menyegarkan Jiwaku
Ayat Panduan
"Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya." (Mazmur 23:3)
"Karena kuasa ilahi-Nya telah menganugerahkan kepada kita segala sesuatu yang berguna untuk hidup yang saleh oleh pengenalan kita akan Dia, yang telah memanggil kita oleh kuasa-Nya yang mulia dan ajaib." (2 Petrus 1:3)
Latar Belakang
Kata kerja Ibrani yang diterjemahkan "menyegarkan" dalam Mazmur 23:3 berasal dari akar kata shuv, yang artinya "berbalik" atau "kembali". Ini adalah akar kata yang sama yang dipakai para nabi Perjanjian Lama ketika mereka memanggil Israel untuk bertobat: "Kembalilah kepada-Ku." Jadi, ketika Daud berkata bahwa Gembala menyegarkan jiwanya, ia sedang menggambarkan sebuah pembalikan arah, dan Gembala sendirilah yang membalikkannya.
PERENUNGAN
Pertobatan bukan hanya saat kita berkata "maaf". Pertobatan adalah perjalanan dari Titik A ke Titik B, dari tersesat menjadi kembali. Petrus menuliskan kedua titik itu dalam satu kalimat: "Sebab dahulu kamu sesat seperti domba, tetapi sekarang kamu telah kembali kepada gembala dan pemelihara jiwamu" (1 Petrus 2:25).
Ada dua kebenaran yang membuat perjalanan yang dari sesat kepada kembali itu, dapat terjadi.
Pertama, Gembala yang mengambil langkah terlebih dahulu. Dalam Yehezkiel 34:16 Tuhan berkata, "Yang hilang akan Kucari, yang tersesat akan Kubawa pulang, yang luka akan Kubalut, yang sakit akan Kukuatkan." Semua tindakan itu dilakukan oleh Tuhan. Pertobatan dimulai dari Dia yang mencari kita, bukan dari usaha kita membereskan diri sendiri.
Kedua, kamu sudah memiliki apa yang kamu butuhkan. Petrus berkata bahwa kuasa ilahi Tuhan "telah menganugerahkan kepada kita segala sesuatu yang berguna untuk hidup yang saleh." Bukan sebagian besar, dan bukan sesuatu yang masih harus kamu usahakan. Alkitab bahkan menyebut pertobatan itu sendiri sebagai karunia dari Tuhan (Kisah Para Rasul 11:18). Melalui Yehezkiel Ia berjanji, "Kamu akan Kuberikan hati yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu" (Yehezkiel 36:26). Kamu tidak diminta untuk menciptakan sendiri kemampuan untuk berbalik. Kamu diminta untuk memakai hati yang sudah Ia berikan.
PENDALAMAN
Banyak dari kita menunda pertobatan karena menunggu sampai kita merasa cukup menyesal. Tetapi Roma 2:4 berkata, "maksud kemurahan Allah ialah menuntun engkau kepada pertobatan." Yang menggerakkan kita untuk berbalik adalah kebaikan-Nya, bukan penyesalan kita. Rasa bersalah mungkin memberi tahu bahwa kamu sedang di Titik A. Tetapi hanya kemurahan-Nya yang memberimu keberanian untuk meninggalkan kesalahan.
Ini mengubah cara kita melihat kembali setahun terakhir. Ketika kamu menelusuri perjalanan dari Titik A ke Titik B, kamu tidak sedang menghitung pencapaianmu sendiri. Tetap kamu sedang menelusuri jejak kemurahan Tuhan. Bahkan bagian hidupmu yang sekarang sudah dikuasai Roh Kudus bisa sampai di sana karena "Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya" (Filipi 2:13). Ia memberi kemauan, dan Ia juga memberi kemampuan untuk melakukannya.
Ini juga membebaskan kita untuk jujur tentang bagian yang masih kita pegang erat. Kalau berbalik adalah hasil usaha kita sendiri, maka mengakui bagian yang belum selesai itu akan terasa seperti kegagalan. Tetapi karena ini adalah pekerjaan Tuhan, kita bisa menyebutkannya tanpa rasa malu. Karena bagian bagian tersebut adalah yang akan dipulihkannya kemudian.
PIKIRKAN HARI INI
Aku tidak sedang menunggu tambahan bekal untuk bertobat. Tetapi aku sedang dituntun oleh kemurahan yang semuanya sudah disediakan bagiku oleh Tuhan.
RENUNGKAN HARI INI (Mohon Dicatat Sebelum Retret)
Kemanakah Gembala telah menuntun aku selama setahun terakhir ini? Apakah permulaan Titik A-ku, dan di manakah aku berada bersekarang?
LAKUKAN
Luangkan waktu sepuluh menit dan gambarlah satu garis sederhana di selembar kertas. Tulis "setahun lalu" di sebelah kiri dan "hari ini" di sebelah kanan. Tandai satu atau dua momen di antaranya ketika kamu merasakan Ia membalikkan arahmu. Lalu, di sebelahnya, tuliskan satu bagian yang masih kamu tahan. Serahkan keduanya kepada-Nya: ucapan syukur dan doakan bagian yang belum selesai.
Doa
Gembala jiwaku, terima kasih karena Engkau mencari aku bahkan sebelum aku berbalik kepada-Mu. Terima kasih karena kemurahan-Mu, bukan rasa maluku, yang menuntun aku kembali. Aku percaya Engkau sudah memberiku segala sesuatu yang aku butuhkan untuk hidup yang saleh. Tunjukkan bagian yang masih aku pegang erat, dan berilah aku anugerah untuk membuka melepaskannya. Segarkanlah jiwaku, oleh karena nama-Mu. Amin.
Untuk pemimpin: Pertanyaan 3: "Bagian mana yang masih kamu simpan?" Pertimbangkan untuk menjawabnya lebih dulu di kelompok. Ketika seorang pemimpin dengan jujur berterus terang menyebutkan sesuatu yang belum selesai dalam hidupnya, maka kelompok belajar akan merasa aman, karena tidak ada seorangpun yang dinilai, atau dibandingkan untuk siapa yang Lebih baik atau lebih saleh.

